Pengolahan Sampah Berwawasan Lingkungan


SAMPAH masih menjadi masalah di hampir semua kota di Indonesia. Mulai dari kota kecil sampai kota metrolitan sekalipun. Berbagai alternatif penyelesaian sampah telah diusahakan oleh berbagai pihak, tetapi tampaknya belum memberikan hasil yang memuaskan. Oleh karena keprihatinan inilah, maka diterapkan suatu teknologi terapan yang diaplikasi dari berbagai teknologi canggih berbagai negara agar mendapatkan suatu teknik pengolahan sampah yang benar‐benar sempurna dan bermanfaat guna. Teknologi ini dinamakan PENGOLAHAN SAMPAH BERWAWASAN LINGKUNGAN(PSBL ).
Sampah dapat menimbulkan masalah kesehatan dan keselamatan lingkungan, bila sampah tidak dikelola dengan baik. Umumnya sampah kota di Indonesia terdiri dari 60 % sampah organik dan 40 % sampah anorganik. Sampai saat ini Indonesia belum memiliki sistem pengolahan sampah terpadu. Sistem pengolahan sampah hanya mengolah sampah menjadi pupuk kompos padat dan sanitary landfill di suatu TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah. Sistem sanitary landfill berbahaya, karena selain menyebabkan polusi juga dapat menimbulkan ledakan lokal. 

Pengelolaan sampah membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat, baik masyarakat desa maupun masyarakat kota. Kebiasaan masyarakat membuang sampah ke jalan, drainase, sungai, atau danau dapat menyebabkan banjir dan menimbulkan aroma tak sedap. Selain itu, sampah dapat menyebabkan polusi dan munculnya berbagai jenis penyakit, seperti penyakit gatal, kulit, perut, diare, disentri, kolera, ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), demam berdarah, leptospirosis, dan penyakit lainnya. 

Sudah saatnya sampah kota diolah dengan menggunakan suatu teknologi berwawasan lingkungan. Dengan kata lain semua sampah diolah menjadi barang bermanfaat, sehingga aman bagi kesehatan dan keselamatan lingkungan. Secara ideal, pengolahan sampah kota dialokasikan pada 2 – 4 lokasi pengolahan. Hal tersebut bermaksud untuk meminimalkan masalah transportasi, antara lain jumlah armada angkutan sampah, risiko kecelakaan, kemacetan lalu‐lintas, polusi, serta kerusakan kendaraan dan jalan raya.

Pengolahan sampah berwawasan lingkungan (PSBL), menerapkan suatu prinsip zero‐waste systems seperti dilakukan oleh Jepang, Kanada, Australia, Rusia, Jerman, Hongaria, China, India, dan Korea Selatan. Dalam hal ini semua sampah diolah menjadi bahan bangunan, pakan ternak, gas methan, dan pupuk. PSBL aman bagi kesehatan dan keselamatan lingkungan, bahkan PSBL dapat dibangun pada suatu kota yang berpenduduk relatif padat atau di tengah kota. Sebagai contoh PSBL di Sapporo (Jepang), Bombay (India), Seoul (Korea Selatan), Budapest (Hongaria), dan kota besar lainnya.

Proses
Pengolahan sampah berwawasan lingkungan (PSBL)
PSBL menggunakan prinsip zero‐waste sistem dilakukan melalui beberapa jenis proses sesuai dengan spesifikasi jenis sampah. Hal tersebut dilakukan supaya sampah dapat diolah dan dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, seperti penangkapan emisi pembakaran, pembuatan bata beton, pakan ternak, gas methan, arang, briket sampah, pupuk, blok beton, dan proses daur ulang.
 
Bahan dan teknologi yang akan digunakan antara lain :
Proses Penangkapan COx, NOx, dan Sox
Proses Pembuatan Bata Beton
Proses Pembuatan Pakan Ternak
Proses Pembuatan Gas Methan
Proses Pembuatan Arang Sampah
Proses Pembuatan Briket Sampah
Proses Pembuatan Pupuk Kompos
Proses Pembuatan Pupuk Cair
Proses Pembuatan Blok Beton
Proses Daur Ulang

Tata Letak Instalasi PSBL
PSBL dengan kapasitas 500 ton per hari idealnya memerlukan lahan seluas 6 hektar. Instalasi PSBL dikelilingi pohon, lokasi antrean kendaraan angkutan sampah (dump truck), dan dilengkapi lahan percobaan pupuk organik padat dan cair yang sekaligus berfungsi sebagai zona penyangga.
Investasi Lahan, AAS dan TPS, serta Instalasi
Investasi keseluruhan PSBL terdiri dari investasi lahan, AAS (armada angkutan sampah) dan titik pembuangan sementara (TPS) sampah serta instalasi PSBL, termasuk lahan pertanian, alat angkutan, dan agen / depot pemasaran.

1. Investasi Lahan
Investasi lahan untuk mengolah sampah 500 ton per hari dibutuhkan areal seluas 6 hektar. Instalasi PSBL dapat dibangun di (dekat) TPA sampah yang ada atau sesuai dengan program pemerintah daerah setempat.


2. Investasi AAS dan TPS
Investasi AAS (armada angkutan sampah) dan TPS (titik pembuangan sementara) sampah tidak diperlukan. Investasi tersebut disediakan oleh pemerintah daerah. Sebagai gambaran untuk kapasitas sampah 500 ton per hari diprakirakan jumlah AAS dan TPS dibutuhkan sebanyak 50 AAS dan 100 TPS. Kegiatan angkutan sampah dari TPS dilakukan setiap hari dalam 3 (tiga) rit, yaitu pada pukul 05.30 – 09.30 – 11.30 atau 14.00 waktu setempat.


3. Investasi Instalasi PSBL dan Sarana Pendukung
Investasi Instalasi PSBL dilengkapi dengan investasi sarana jalan, taman, kendaraan, alat berat, termasuk studi amdal dan sosialisasi teknologi PSBL. Dalam rangka kesinambungan investasi PSBL, sarana pendukung mencakup lahan pertanian dan peternakan, alat angkutan, serta agen/depot pemasaran.

Pendapatan Pemasaran Produk PSBL dan Retribusi Sampah
Pendapatan dari pemasaran produk PSBL didapat dari seluruh produk yang dihasilkan yaitu :
Gas C0x, N0x, dan S0x
Bata Beton
Pakan Ternak
Gas Methan
Arang Sampah
Briket Sampah
Pupuk Padat
Pupuk Cair

8
Blok Beton
Plastik dan Karet
Kertas dan Karton
Kaca, Besi, Seng, dll.

LOKASI INSTALASI PSBL DAN BIDANG USAHA TERKAIT
Lokasi Instalasi PSBL

Lokasi Instalasi PSBL dapat dibangun di dekat TPA sampah atau suatu tempat sesuai dengan program pemerintah daerah, supaya keberadaan Instalasi PSBL dapat mengatasi masalah transportasi sampah di kota besar dan sekitarnya. Dengan penetapan lokasi tersebut, diharapkan semua sampah dapat terangkut ke Instalasi PSBL secara merata, dan tidak terjadi penumpukan sampah pada suatu TPS.
Bidang Usaha Terkait

Instalasi PSBL (sebagai usaha inti) terkait erat dengan beberapa jenis usaha lain, baik di Bagian Hulu maupun Hilirnya. Dari Bagian Hulu, sampah, limbah pertanian, dan limbah budidaya ikan, ayam, burung puyuh, kambing, sapi, Rumah Potong Hewan, dan puing konstruksi dapat diolah menjadi pupuk padat dan cair, pakan ternak, gas methan, bata dan blok beton, serta produk lainnya.
Produk PSBL yang ramah lingkungan (pakan ternak) dapat digunakan untuk budidaya burung puyuh, ayam, itik, ikan, dan udang (di Bagian Hulu). Sementara produk pengolahan sampah (pupuk padat dan cair, gas methan, bata dan blok beton) dapat digunakan untuk pertanian, energi, dan bahan konstruksi (di Bagian Hilir).
Dengan kata lain, PSBL merupakan suatu usaha saling terkait atau suatu siklus usaha antara usaha hulu dan usaha hilir. Hasil pengolahan PSBL dapat dipakai untuk memenuhi kebutuhan di bidang pertanian, peternakan, konstruksi, dan obyek pariwisata di daerah setempat dan wilayah sekitarnya.

Pentingnya Pengolahan Sampah

Masyarakat awam, membedakan secara mendasar atas pengertian sampah dan limbah. Kedua istilah dimaksud pada dasarnya merupakan sisa (waste) bahan buangan yang tidak digunakan lagi, walaupun masih dapat diproses untuk kegunaan lain. 

Pengertian sampah terbatas pada sampah padat baik organik maupun anorganik, sedangkan limbah merupakan bahan buangan (waste) yang dalam prosesnya menggunakan air.

Kedua bentuk buangan (waste) baik sampah padat maupun limbah cair yang bersumber dari
lingkungan masyarakat, dan secara umum disebut dengan istilah ”limbah domestik”. 

Pengertian limbah domestik adalah bahan buangan (waste atau limbah), yang bersumber dari lingkungan masyarakat, dimana bentuk dan komposisinya dapat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungannya. Berdasarkan sumbernya, limbah domestik bisa berasal dari permukiman pen-duduk, lingkungan perkantoran, pertokoan dan pasar, maupun home industri.

Berdasarkan kandungan zat kimianya limbah domestik dibedakan menjadi dua, yaitu: (a) anorganik, seperti misalnya plastik, logam-logam, pecahan gelas dan abu,
(b) organik, seperti sisa makanan, kertas, dedaunan, sisa makanan buah dan sayur

Berdasarkan mudah tidaknya dibakar, juga dibedakan menjadi , yaitu:
  mudah dibakar (kertas, karet, plastik, kain dan kayu), dan berbeda dengan karakteristik berdasarkan mudah tidaknya membusuk. Limbah yang sulit membusuk (plastik, pecahan gelas, dan karet), sedangkan yang relatif mudah membusuk antara lain sisa makanan, dedaunan, sobekan kain dan atau kertas.

Fenomena persampahan yang berada pada 384 kota di Indonesia, tercatat meningkat
dari 80,2 juta ton/hari pada tahun 2000, menjadi 89,6 juta ton/ha pada tahun 2006.
Penanganan sampah yang diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA),
sebesar 10,4 %, dibakar sebesar 24,8 %, hanyut ke sungai 1,9 % dan tidak tertangani
sebesar 62,9 %.Rendahnya penanganan tersebut selain disebabkan oleh semakinmeningkatnya penduduk perkotaan, juga terbatasnya kendaraan pengangkut sampah, serta sistem pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan.
Besarnya timbunan sampah yang belum tertangani, menyebabkan berbagai fenomena permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk perkotaan.

Selain menimbulkan bau dan sumber berbagai penyakit menular, juga pudarnya nilai-nilai
keindahan kota karena maraknya tumpukan-tumpukan sampah.

Konsepsi Penanganan Sampah Tepadu

Mecermati aspek permasalahan dalam pengelolaan sampah, untuk itu upaya-upaya
yang harus dilakukan antara lain meliputi pemantapan kebijakan persampahan, penanganan sampah regional, memacu kearifan masyarakat terhadap fenomena persampahan, dan peningkatan teknologi ramah lingkungan.



1. Kebijakan Pemerintah
Permasalahan sampah perkotaan di Indonesia, telah muncul sejak dekade tahun
1990-an. Meski demikian, kebijakan strategis yang telah ditetapkan oleh pemerintah baru
pada tahapan yang erat kaitannya dengan aspek teknis, yaitu: melakukan pengurangan
timbulan sampah dengan menerapkan konsep 3 R (
Reduce, Reuse dan Recycle), dengan harapan pada tahun 2025 tercapai “zero waste“. Padahal pada saat sekarang diperlukan kebijakan yang handal sebagai payung baik di tingkat pusat maupun daerah keterkaitannya dengan penanganan persampahan.

Pendekatan pengelolaaan persampahan yang semula didekati dengan wilayah
administrasi, dapat diubah dengan melalui pendekatan pengelolaan persampahan secara
regional. Pendekatan regional dimaksud dengan menggabungkan beberapa kota dan atau
kabupaten dalam pengelolaan persampahan. Hal tersebut sangat menguntungkan, karena
akan mencapai skala ekonomis baik dalam tingkat pengelolaan TPA, dan pengangkutan dari
TPS ke TPA. Berbagai prinsip yang perlu dilakukan dalam menerapkan pelaksanaan
pengelolaan persampahan secara regional ini adalah sebagai berikut:

(a). Menyusun peraturan daerah (Perda) bersama yang mengatur pengelolan persampahan.
Peraturan tersebut berisi berbagai hal dengan mempertimbangkan aspek hukum dan
kelembagaan, teknik, serta aspek keuangannya.
(b). Pemantapan kelembagaan dengan memisahkan peranan fungsi tupoksi yang jelas
antara pembuat peraturan, pengatur/pembina dan pelaksana (operator), hingga
optimalisasi kinerjanya dapat dievaluasi dan dinilai.

(c). Penetapan indikator kinerja berdasarkan aspek teknis, memberikan indikasi (1) seluruh
timbunan sampah akan diangkat ke TPA dalam waktu 24 jam, (2) teknik pengangkutan
sampah tidak menyebabkan pencemaran bau, (3) pengoperasian di TPA telah ditetapkan
sistemnya (contoh sistem sanitary landfill), dan (4) pemanfaatan sampah sebagai sumber
ekonomi melalui penerapan daur ulang, atau pemanfaatan untuk kompos.
(d). Adanya kesepakatan antar kabupaten/kota (regional) dalam kaitannya dengan restribusi
persampahan, hingga alokasi antara dana yang dibebankan oleh pemerintah dan
masyarakat berimbang.
 
2. Sosialisasi Penyadaran Masyarakat
Fenomena persampahan tampaknya bukan hal yang sederhana, karena sepanjang
ada kehidupan manusia permasalahan tersebut akan selalu timbul. Walaupun kebijakan
persampahan telah tersedia, ditambah dengan bentuk kelembagaannya, serta indikator
kinerja dan tetapan alokasi pendanannya baik yang bersumber dari APBD dan masyarakat,
tampaknya belum merupakan jaminan mantapnya pengelolaan sampah secara terpadu
berkelanjutan, apabila kesadaran masyarakat tidak dibangun. Hal tersebut mengingat bahwa
keberhasilan penanganan sampah sangat ditentukan oleh ”niat kesungguhan masyarakat”
yang secara sadar peduli untuk menanganinya. Atas dasar itulah pentingnya sosialisasi
penyadaran masyarakat
baik melalui jalur formal maupun informal yang antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:

(a). Penyadaran formal, diberikan kepada generasi muda di sekolah (SD, SLTP, dan SLA)
melalui pemantapan kegiatan ”Krida” mingguan.
(b). Penyadaran informal, diberikan kepada masyarakat dalam kaitannya penanganan
sampah berbasis kesehatan lingkungan, untuk itu perlunya (1) penyadaran masyarakat,
untuk menghargai terhadap alam lingkungannya, agar tidak lagi membuang limbah
domestik (sampah padat dan limbah cair) ke bukan tempatnya, dan (2) masyarakat
hendaknya mulai sadar dan berkiprah untuk memilah-milah sampah berdasarkan
jenisnya, guna menghindari sumber-sumber penyakit menular, sebagai akibat dari limbah
domestik yang cepat membusuk.

Cara Mudah Mengganti Tempelate Blogger

Jika anda kurang puas dengan tempelate bawaan dari blogger pastilah anda harus mengganti tempelate, proses mengganti template juga lebih mudah. Hanya saja perlu download template baru yang ada berikut salah satu situs yang menyediakannya http://www.blogspottutorial.com/


- pilih tempelate Blogger mana yang kamu suka saya sarankan sih yang slidebarnya sebelah kanan semua karena mesin pencari kalo tidak salah menelusuri lewat kiri, so kena pertama postingan kita jika tidak ada slidebar dikiri .
- download Free tempelate
- kalo bentuknya rar di ekstrak dulu
- kemudian upload lewat account blogger.

berikut ini lebih detailnya

Cara Mengganti template di new blogger:

Login ke blogger.com, setelah masuk ke dashboard, pilih blog yang ingin kamu ganti templatenya. Klik pada link Layout, klo pke bahasa indo Tata letak.

Setelah halaman Template terbuka, pilih sub menu Edit HTML
Sekarang upload fil .xml yang udah kamu download tadi, Klik tombol Browse dan cari dimana file .xml kamu simpan, kemudian klik tombol Upload.
  
kalo ada peringatan klik aja tombol merah Jika mau dilanjutkan biasanya sebagian widget dari blog lama akan terhapus, jika tampilan kacau tenang edit aja di page elemen

              

Tambahan yang masih mamakai Classic Template, mau pakai yang new blogger template
 
Login ke blogger.com, setelah masuk ke dashboard, pilih blog yang ingin kamu ganti templatenya. Klik pada link Template.
Setelah halaman Template terbuka, pilih sub menu Customize Design
Klik Tombol Upgrade Your Template dan pilih salah satu template yang ada, kemudian klik tombol Save Template
Jadi code nya seperti make classic template, cukup upload dan templatemu langsung berubah. Ingat, selalu backup/ download template yang dipakai sebelum mengganti dengan template baru.

Sejarah Singkat Blog

Nah uda tahu belum apa yang namanya blog itu, jangan dampe udah jadi master malah gak tau apa sih blog itu. Blog adalah sngkatan dari Weblog. Orang pertama yang memperkenalkan blog adalah Jorn Barger 1997 pada bulan Desember.

Blog bisa dianggap sebagai laman web pribadi. Ia bisa dijadikan sebagai catatan harian pribadi, majalah pribadi, rumah pribadi, kedai pribadi dan buku pribadi. Kita bisa menuliskan apa saja di dalam blog tersebut.


Jika anda ingin menuliskan isi hati anda dan ingin diketahui oleh umum, maka blog ini adalah salah satu jalan keluar. Anda juga bisa mengajar orang banyak dengan menggunakan blog.

Jadi amatlah banyak fungsi blog ini mengikut keinginan penulisnya.Seperti sekarang ini, saya gunakan blog ini untuk mengajar anda cara membuat blog. Dan bagusnya blog ini adalah gratis.

Anda bisa gunakan blog sebagai toko anda. Dengan itu anda bisa mengiklankan barang-barang yang ingin anda jual atau apa-apa produk yang anda pasarkan dan masih bnyak lagi jika anda ingin mencoba. Karena saya juga sedang belajar dalam membuat blog ini, maka saya akan posting seperti blogger newbie yang buta dengan ilmu ngeblog hehe.


Jenis-Jenis Biomassa

Jenis-jenis biomassa adalah sebelumnya tahu dulu apa itu biomassa!

A. Biomasa Basah

Biomasa basah yang berupa kotoran ternak atau sampah rumah tangga perlu diubah terlebih dahulu melalui proses anaerobik untuk menghasilkan gas metana yang dapat digunakan untuk menggerakkan generator listrik

Proses ini lebih dikenal dengan nama Proses Biogas. Umumnya biogas lebih banyak menggunakan kotoran ternak. Sedangkan sampah rumah tangga yang sebagian besar berupa bahan organik (74%) dan sisanya 26 % berupa bahan yang sulit terurai, masih belum banyak digunakan untuk biogas. Sementara ini biogas lebih banyak digunakan untuk memasak sebagai pengganti tungku kayu bakar atau kompor minyak tanah. Pada skala percobaan seperti yang diterapkan di Bengkulu, dengan memanfaatkan kotoran 2 ekor sapi dapat dihasilkan sejumlah biogas untuk menyalakan 2 buah lampu 45 watt selama 5 jam
( Bengkulu Kembangkan Energi Biogas, Majalah SINAR 14/06/97) Instalasi yang diperlukan untuk membuat biogas adalah sebuah tangki kedap udara agar proses anaerobik dapat berlangsung dengan sempurna. Reaksi ini akan berlangsung bila tersedia panas yang cukup. Berkisar antara 300C - 35oC. Proses perubahan menjadi gas metana akan berlangsung sekitar 20 hari jika bahan bakunya hanya kotoran ternak dan akan berlangsung lebih lama jika dicampur dengan sampah rumahtangga.

Reaksi ini akan menghasilkan gas metana, gas karbondioksida dan sejumlah limbah cair dan padat. Sebagian besar, kurang lebih antara 55% - 65 % , dari total biogas yang dihasilkan adalah gas metana. Sekitar 400 m3 biogas untuk setiap ton biomasa setara dengan 240 m3 gas metana (Growing Power, 1997). Gas metana tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan listrik dengan dua cara yaitu, untuk menggerakkan mesin bakar internal atau untuk menggerakkan turbin gas sebagai penghasil tenaga gerak untuk generator. Selanjutnya generator tersebut yang akan menghasilkan energi listrik Motor bakar internal (MBI) yang digunakan pada prinsipnya sama dengan yang digunakan untuk MBI bensin dan solar. MBI gas ini cukup efisien untuk menghasilkan listrik sampai dengan 100 kW. Sedangkan untuk menghasilkan tenaga listrik yang lebih besar lagi dapat digunakan turbin gas. Prinsip kerja turbin gas mirip dengan turbin uap. Jika pada turbin uap digunakan uap panas untuk mengerakkan baling-baling maka disini digunakan gas hasil pembakaran gas metana.

      

 
B. Biomassa Kering

Biomassa kering ini dapat diperoleh dari bahan tanaman yang berasal dari hutan atau areal pertanian. Dari hutan biasanya hanya kayu yang dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku bubur kertas, pertukangan atau kayu bakar. Peluang kayu untuk bioenergi baik selama masih di hutan maupun setelah masuk industri cukup besar.

Pemanfaatan kayu yang ditebang untuk bahan baku kertas/pertukangan hanya sekitar 50% saja. Sisanya belum dimanfaatkan bahkan terbuang begitu saja. Bahkan setelah masuk ke dalam industri masih banyak bagian kayu yang tidak terpakai. Bagian yang tersisa ini bisa dimanfaatkan untuk bioenergi. Energi yang digunakan untuk menghasilkan listrik diperoleh dari panas yang dihasilkan dari pembakaran biomasa kering. Panas yang dihasilkan tersebut digunakan untuk memanaskan air sehingga setelah terbentuk uap panas maka uap panas tersebut dapat dialirkan untuk menggerakkan balingbaling dalam turbin uap. Yang harus dihindari adalah terjadinya pembakaran yang tidak sempurna karena dalam proses
pembakaran yang tidak sempurna akan dihasilkan gas karbonmonoksida (CO) yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Selain itu jumlah panas yang dihasilkan juga berkurang. 
Berarti listrik yang akan dihasilkan juga berkurang. Sementara itu penggunaan turbin uap juga memiliki kelemahan karena efisiensinya rendah. Tenaga gerak yang dihasilkan sangat terbatas karena lebih banyak dikeluarkan dalam bentuk panas. Untuk itu dapat digunakan sistim kombinasi. Berupa penggabungan antara turbin gas dan turbin uap. Sistem ini mengandalkan energi panas yang terbuang dari turbin gas. Panas tersebut digunakan untuk memanaskan air. Selanjutnya uap panas yang terbentuk digunakan untuk menggerakan turbin uap. Sistem ini memiliki efisiensi sampai 40 % (Power Plant, 1996).


Perancangan Sistem

Perhitungan sumber daya yang tersedia perlu dilakukan sebelum perancangan sistem. Ini berkaitan dengan jenis pembangkit listrik yang akan digunakan. Jika potensi yang tersedia adalah ternak maka bisa dipilih listrik biogas. Perhitungan volume tangki biogas dan instalasi lainnya dilakukan setelah jumlah ternak dan kotoran yang tersedia diketahui. (Selengkapnya bisa dibaca dalam cara membuat biogas, misalnya karangan Widarto dan Sudarto - Kanisius,1997). Sebagai gambaran, kotoran 2 ekor sapi membutuhkan ruang sebesar 3 m3 untuk diubah menjadi biogas. Dari sini akan dihasilkan kurang lebih 1 m3 biogas yang dapat digunakan untuk menghasilkan listrik sekitar 450 watt jam.

Listrik yang dihasilkan dengan menggunakan biomasa akan berharga lebih mahal dibandingkan harga listrik PLN. Akan tetapi ini akan menguntungkan untuk daerah-daerah, karena kondisi geografis atau yang lain, tidak terjangkau oleh jaringan listrik PLN. Paling tidak untuk daerah, daerahyang memiliki limbah organik, limbah tersebut dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money