Macam – Macam Operasi pada Proses Permesinan Miling dan turning

Menurut (kalpakjan,2005) macam-macam operasi pada proses permesinan yaitu:

1. Operasi pada Mesin Milling
Pada mesin milling, ada beberapa jenis operasi yang terjadi, diantaranya adalah:

a. Slab milling / peripheral milling. Pada proses ini sumbu putaran pahat freis selubung sejajar permukaan benda kerja

b. Face milling. Proses ini sumbu putaran pahat freis muka tegak lurus permukaan benda kerja.

c. End Milling. Proses ini dapat memproduksi benda dengan permukaan yang datar dan berbagai profil. Pisau pemotongnya berbentuk lurus digunakan untuk pemotongan benda-benda berukuran kecil atau luas. Pemotong tersebut biasanya berputar pada sumbu yang tegak lurus benda kerja.

2. Operasi pada Mesin Turning

Pada mesin turning terdapat 9 macam proses yang dapat dilakukan, yakni :

1. Turning (membubut silindris). Bertujuan untuk mengurangi diameter luar bendan kerja. Gerak pahat potongnya merupakan gerak lurus sejajar sumbu z.

2.Boring (memperbesar diameter). Bertujuan untuk memperbesar diameter lubang baik berbentuk garis lurus, tirus maupun busur yang tidak beraturan.

3.. Facing (membubut muka). Bertujuan untuk mengurangi panjang benda kerja atau memotong benda kerja. Gerak pahat potongnya merupakan gerak lurus sejajar sumbux.

4. Cutting off atau parting (memotong). Merupakan proses pemindahan benda kerja menjadi 2 bagian.

5. Drilling dan Reaming. Dapat digunakan apabila benda kerja yang akan dibubut dipegang diantara kedua pusat.

6. Knurling. Merupakan proses untuk membuat permukaan luar benda kerja (silindris) menjadi kasar dengan geometry tertentu.

7. Membubut lubang sepusat.bembubutan ini dapat dikerjakan apabila benda kerja yang akan dibubut dipegang diantara kedua pusat yaitu spindle dan tail stock.

8. Pembuatan ulir. Umumnya untuk menghasilkan ulir, baik ulir dalam ataupun ulir luar yang sempurna diperlukan 3–6 kali pemotongan.

9. Pemotongan Tirus
Dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : taper attachment, template dan tracer attachment, numerical control lathe, Tirus pendek, Tirus panjang.

Contoh Produk Dari Permesinan

Beberapa contoh dari hasil produk permesinan antara lain

    * Bushing

Berbagai macam bushing untuk spring, joint dan ball crank pada mobil, bis, truk maupun trailer/dump truk. Terbuat dari  bahan kuningan (brass) yang memiliki ketetapan dan mutu tinggi.

    * Parts Mobil

Berbagai jenis dan tipe spare parts/onderdil maupun aksesori untuk segala macam jenis kendaraan bermotor (automotive) seperti Brake Adjuster, Retainer, Sock Joint Bearing, Spring Shackle, Shackle TieRod, Pinion Nuts dan masih banyak lagi.

    * Parts Sepeda Motor

Berbagai jenis spare parts maupun aksesoris sepeda motor terbuat dari logam-logam pilihan bermutu tinggi sesuai dengan standar kualitas internasional seperti Holder Gas, Footsteps, Handle dan Rem, Kiproks, Holder Shock Absorber, Pendingin Knalpot, Filter Oli.

    * Parts Diesel dan Pompa Air

Berbagai jenis spare parts mesin diesel dan pompa air seperti valve sleeve, Pulley, Water Pumps, Shaft, Impeller, Flendes.

    * arts Listrik dan Trafo Las
Aneka macam jenis dan tipe komponen listrik untuk tegangan tinggi maupun rendah seperti Penangkal Petir, Clamp, Connector, Kunci Panel HS/LS, Engsel Panel. Serta berbagai komponen trafo las seperti Reel Inti Current, As Drat Ulir Trapesium, Las Titik.

Dasar – Dasar Proses Permesinan

Proses permesinan atau machining (Diktat Lab Sistem Manufaktur, 2005) adalah terminologi umum yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah proses penghilangan material. Proses permesinan dibagi menjadi dua yakni :

   1. Traditional Machining : turning, milling, drilling, grinding, dll.
   2. Non-traditional machining: chemical machining, ECM, EDM, EBM, LBM, machining dari material non-metallic.

Proses machining merupakan proses yang banyak digunakan untuk proses pembentukan produk, hal ini dikarenakan proses permesinan memiliki keunggulan-keunggulan dibanding proses pembentukan lainnya (casting, powder metallurgy,bulk deformation) yaitu:

   1. Keragaman material kerja yang dapat diproses
    * Hampir semua logam dapat dipotong
    * Plastik dan plastik komposit juga dapat dipotong
    * Ceramic sulit untuk dipotong (keras & getas)

   1. Keragaman geometri potong

    * Fitur standar: lubang, slot, step dll
    * Fitur non-standar: tap hole, T slot

   1. Keakuratan dimensi
         1. Toleransi hingga ± 0.025mm
   2. Permukaan potong yang baik
         1. Kekasaran permukaan hingga 0.4 mm

Jenis- Jenis Proses Permesinan beserta prinsip kerjanya
Proses permesinan (Diktat Lab Sistem Manufaktur, 2005) merupakan proses manufaktur dimana objek dibentuk dengan cara membuang atau meghilangkan sebagian material dari benda kerjanya. Tujuan digunakan proses permesinan ialah untuk mendapatkan akurasi dibandingkan proses-proses yang lain seperti proses pengecoran, pembentukan dan juga untuk memberikan bentuk bagian dalam dari suatu objek tertentu. Adapun jenis-jenis proses permesinan yang banyak dilakukan adalah: Proses bubut (turning), proses menyekrap (shaping dan planing), proses pembuatan lubang (drilling), proses mengefreis (milling), proses menggerinda (grinding), proses menggergaji (sawing), dan  proses memperbesar lubang (boring)

1. Proses Bubut (Turning)
Proses bubut (turning) merupakan proses produksi yang melibatkan  bermacam-macam mesin yang pada prinsipnya adalah pengurangan diameter dari benda kerja. Proses-proses pengerjaan pada mesin bubut secara umum dikelompokkan menjadi dua yaitu: proses pemotongan kasar dan pemotongan halus atau semi halus. Jenis mesin ini bermacam-macam dan merupakan mesin perkakas yang paling banyak digunakan di dunia serta paling banyak menghasilkan berbagai bentuk komponen-komponen sesuai peralatan.  Pada mesin ini, gerakan potong dilakukan oleh benda kerja dimana benda ini dijepit dan diputar oleh spindel sedangkan gerak makan dilakukan oleh pahat dengan gerakan lurus. Pahat hanya bergerak pada sumbu XY.

2. Proses Menyekrap ( Shaping dan Planning)
Pada proses permesinan ini hanya dapat memotong menurut garis lurus dengan jenis/tipe pemotongan yang sama dan selalu memotong hanya dalam satu arah, sehingga langkah balik merupakan langkah terbuang (waktu terbuang). Proses menyekrap menggunakan tool yang lebih keras dari benda kerja.

a. Shaper

Shaper adalah mesin yang digunakan untuk memproduksi benda yang memilki dimensi relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan planer. Gerak potang pada mesin shaper dilakukan oleh pahat yang melekat pada ram, sedangkan gerak makan dilakukan oleh benda kerja (meja).

b. Planer

Planer adalah mesin yang digunakan untuk memproduksi benda yang besar dan berat. Gerak potong dilakukan oleh benda kerja, sedangkan gerak makan dilakukan oleh pahat.

3. Mesin Gurdi (Drilling Machine)

Pada mesin Gurdi pahat potong yang digunakan berupa twist drill yang terdiri dari dua atau lebih pahat potong tunggal, sehingga dikelompokkan sebagai pahat bermata potong banyak. Gerakan memotong dan memahat dilakukan oleh pahat.

4. Mesin Freis (Milling Machine)
Pada proses Freis, prinsip dasar yang digunakan adalah terlepasnya logam (geram) oleh gerakan pahat yang berputar. Mesin ini dapat melakukan pekerjaan seperti memotong, membuat roda gigi, menghaluskan permukaan, dan lain-lain. Prinsip kerja dari proses milling adalah pemotongan benda kerja dengan menggunakan pahat bermata majemuk yang dapat menghasilkan sejumlah geram. Benda kerja diletakkan di meja kerja kemudian, dipasang pahat potong dan disetel kedalaman potongnya. Setelah itu, benda kerja didekatkan ke pahat potong dengan pompa berulir, untuk melakukan gerak memakan sampai dihasilkan benda kerja yang diinginkan.

5. Mesin Gerinda (Grinding Machine)

Prinsip kerja dari menggerinda adalah menggosok, menghaluskan dengan gesekan atau mengasah, biasanya proses grinding digunakan untuk proses finishing pada proses pengecoran. Mesin gerinda dibedakan  menjadi beberapa macam antara lain:

a. Face Grinding jenis serut (reciprocating table), biasanya digunakan untuk design sindle vertikal, untuk roda gigi, dan untuk pengerjaan permukaan datar.

b. Face Grinding jenis meja kerja putar (rotating table) yang digunakn untuk pengerjaan luar seperti memperbaiki cxetkan dan permukaan panjang.

c. Gerinda silindris ( Cylindrical Grinding ) gerinda ini digunakan untuk mengerinda permukaan silindris, meskipun demikian pekerjaan tirus yang sederhana dapat juga dikerjakan. Gerakan silindris dapat dikelompokkan menurut metode penyangga meja kerja, yaitu gerinda dengan pusat dan gerinda tanpa pusat.

6. Gergaji (Sawing)

Mesin gergaji adalah suatu mesin yang sangat sederhana dan banyak digunakan untuk memotong logam atau non logam.

7. Mesin pembesar lubang (Broaching)

Proses Broaching pada dasarnya hampir sama dengan proses gergaji, hanya berbeda pada bentuk pahat potongnya. Jika pada mesin gergaji pemakan atau pemotong benda kerja oleh satu sisi pahat, tetapi pada mesin broaching pada keseluruhan dari sisi pahat potong.

Prinsip Kerja Mesin Milling dan Turning
Menurut (kalpakjan,2005) proses permesinan yang akan digunakan dalam modul II kali ini, lebih banyak mengenai mesin miling dan mesin turning. Berikut ini merupakan prinsip kerja dari kedua mesin tersebut

    * Prinsip Kerja Mesin Milling

Tenaga untuk pemotongan berasal dari energi listrik yang diubah menjadi gerak utama oleh sebuah motor listrik, selanjutnya gerakan utama tersebut akan diteruskan melalui suatu transmisi untuk menghasilkan gerakan putar pada spindel mesin milling.

Spindel mesin milling adalah bagian dari sistem utama mesin milling yang bertugas untuk memegang dan memutar cutter hingga menghasilkan putaran atau gerakan pemotongan.Gerakan pemotongan pada cutter jika dikenakan pada benda kerja yang telah dicekam maka akan terjadi gesekan/tabrakan sehingga akan menghasilkan pemotongan pada bagian benda kerja, hal ini dapat terjadi karena material penyusun cutter mempunyai kekerasan diatas kekerasan benda kerja.

    * Prinsip Kerja Mesin Turning

Menurut (kalpakjan,2005) mesin ini mempunyai gerak utama berputar dan berfungsi sebagai pengubah bentuk dan ukuran benda kerja dengan cara menyayat benda tersebut dengan suatu penyayat. Posisi benda kerja berputar sesuai dengan sumbu mesin dan pahat diam, bergerak ke kanan, ke kiri searah dengan sumbu mesin menyayat benda kerja.

Mesin bubut mendapatkan dayanya pada kepala tetap melalui sabuk V banyak dari motor yang dipasang dibawah dari pengendali pada ssisi kepala tetap salah satu dari 27 kecepatan, yang diatur dalam kemajuan geometris yang logis, dapat diperoleh. Dilengkapi dengan pencekam dan rem listrik untuk start, menghentikan atau menyentakkan benda kerja.

Ekor tetap dari pembubut dapat disetel sepanjang bangku untuk menampung panjang stok yang berbeda. Dilengkapi dengan pusat yang dikeraskan, yang dapat digerakkan masuk dan keluar oleh penyetel roda dan dengan ulir pengencang di dasarnya yang digunakan untuk menyetel penyebarisan pusatnya dan pembubutan tirus. Sekrup pengarah terletak agak dibawah dan sejajar terhadap jalur bangku, memanjang dari kepala tetap sedemikian rupa sehingga dapat diputar balik dan dihubungkan atau dilepas dari kereta luncur selama operasi pemotongan. Ulir pengarah hanya untuk pemotongan ulir saja dan harus dipisahkan kalau tidak dipakai untuk mempertahankan ketepatannya. Tepat dibawah ulir pengarah terdapat batang hantaran.

Rakitan kereta luncur mencakup peletakan majemuk, sadel, pahat dan apron. Karena mendukung dan memandu pahat potong maka harus kaku dan dikonstruksi dengan ketepatan tinggi. Tersedia dua hantaran tangan untuk memandu pada gerakan arah menyilang. Engkol tangan yang atas mengendalikan peletakan majemuk, dank arena peletakannya dilengkapi denga busur derajat penyetel putaran, maka dapat ditempatkan dalam berbagai kedudukan sudut untuk membuat tirus pendek. Roda tangan kedua digunakan untuk menggerakkan kereta luncur disepanjang landasan, biasanya untuk menarik kembali keduduka semula setelah ulir pengarah membawa sepanjang pemotongan. Bagian dari kereta luncur yang menjulur di depan dari pembubut disebut apron. Pada permukaan apron dipasangkan berbagai roda dan tuas kendali.

Jenis – Jenis Mesin Milling dan Turning
Mesin miling dan turning, dapat terbagi menjadi beberapa jenis atau macam proses. Jenis-jenis dari proses milling dan turning antaralain dapat dijelaskan sebagai berikut.

    * Jenis-jenis Mesin Miling

Ada 4 tipe dari mesin milling secara umum, yaitu :

1. Knee and column
Terdiri atas 2 bagian yaitu vertical spindle dimana benda kerja berputar pada meja horizontal dan horisontal spindel yang kedudukan spindelnya terpasang mendatar pada kepala mesin.
Spindle Head adalah bagian dari mesin miling yang berfungsi sebagai tempat untuk memasang tool holder (arbor) dan memutar cutter untuk menyayat benda kerja.

2. Bed type

Digunakan untuk mengisi kebutuhan pengerjaan benda kerja yang berat dan besar (± 90-900 kg). Bed type memiliki ciri-ciri antaralain tanpa sandle sehingga gerak meja hanya horizontal, spindle carrier dapat digerakkan naik turun, cutter dapat dilepas dan dipasang dengan menyetel spacer.

3. Planer type

Memiliki prinsip kerja yaitu pahat potongan tidak diam, berputar dan bermata potong banyak

Digunakan untuk mengerjakan benda kerja yang besar dan berat.

4. Special type
Special type sendiri terbagi atas 2 macam yaitu climb milling atau down milling

dengan prinsip kerja  yaitu pada permukaan datar, pahat potong bergerak ke bawah menembus material benda kerja, sehingga dimulai dengan pemotongan yang besar dan diakhiri pada ketebalan geram nol. Sedangkan pada suatu pahat vertikal gaya putaran pahat seakan-akan mendorong benda kerja ke arah gerak meja.

    * Jenis-jenis Mesin Turning

Secara garis besarnya, maka mesin turning dapat diklasifikasikan menjadi 5 macam,

yaitu : Engine Lathe, Relieving Lathe, Facing Lathe (Vertikal Boring dan Turning
Machines), Turret Lathe, Automatic Lathe.

Masing-masing jenis mesin tersebut mempunyai guna dan tujuan tertentu, misalnya untuk engine lathe, ditujukan untuk mengerjakan pekerjaan yang bersifat produksi kecil (job order), sedangkan untuk produksi yang tinggi memakai automatic lathe. Engine lathe merupakan turning konvensional sedangkan automatic lathe sudah terotomasi. (www.geocities.com/hari_seputro/mesin_cnc)

Konsep dan Definisi Mesin CNC

Sebuah mesin yang dikendalikan dengan kode angka – angka adalah proses yang secara otomatis menjalankan operasi manufacturing menurut perintah yang tersusun dalam kode angka. Karena informasi yang digunakan berbentuk rumus matematik maka sistem ini dinamakan kontrol dengan angka (numerical control). Operasi sebuah mesin perkakas (pertama kali digunakan dalam proses mengikir, membuat lubang, memutar, mengasah dan menggergaji, dan tahun – tahun terakhir ini juga digunakan untuk membengkokkan pipa dan membuat berbagai bentuk) bertolak dari data angka yang disimpan di atas kertas atau pipa magnetik, kartu tabulasi, ingatan komputer atau informasi langsung. Dibandingkan dengan peralatan biasa, mesin yang dikontrol dengan kode angka ini lebih cermat, konsisten dan fleksibel, bahkan untuk manufakturing yang sangat rumit sekalipun. Rancangan produk dapat diubah atau disesuaikan cukup dengan mengubah instruksi saja. CNC ini merupakan bagian dari NC. CNC merupakan sebuah sistem dimana pahat potong mesin bekerja sesuai dengan instruksi dari komputer bukan dari operator. Awal lahirnya mesin CNC (Computer Numerically Controlled) bermula dari 1952 yang dikembangkan oleh John Pearseon dari Institut Teknologi Massachusetts, atas nama Angkatan Udara Amerika Serikat. Semula proyek tersebut diperuntukkan untuk membuat benda kerja khusus yang rumit. Semula perangkat mesin CNC memerlukan biaya yang tinggi dan volume unit pengendali yang besar. Pada tahun 1973, mesin CNC masih sangat mahal sehingga masih sedikit perusahaan yang mempunyai keberanian dalam mempelopori investasi dalam teknologi ini. Dari tahun 1975, produksi mesin CNC mulai berkembang pesat. Perkembangan ini dipacu oleh perkembangan mikroprosesor, sehingga volume unit pengendali dapat lebih ringkas.
 

Dewasa ini penggunaan mesin CNC hampir terdapat di segala bidang. Dari bidang pendidikan dan riset yang mempergunakan alat-alat demikian dihasilkan berbagai hasil penelitian yang bermanfaat yang tidak terasa sudah banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat banyak.(www.geocities.com/hari_seputro/mesin_cnc)
(www.geocities.com/hari_seputro/mesin_cnc)

2.8       Kode – Kode Part Programming dalam CNC

Macam-macam G Codes

Kode G (kode persiapan) menyatakan perintah-perintah yang mengontrol informasi yang diberikan kepada mesin mengenai langkah-langkah yang harus dijalankan untuk menghasilkan komponen demi komponen dari produk. Adapun jenis-jenis dari G-Codes adalah sebagai berikut :

Keterangan G-Codes
Keterangan G-Codes
Common G-words (berkaitan dengan persiapan input data)
G00     Point to point movement (rapid traverse)
G01     Pergerakan Linier (x-y-z coordinates)
G02     Pergerakan Melingkar Searah Jarum Jam
G03     Pergerakan Melingkar Berlawanan Jarum Jam
G04     Berhenti selama waktu yang ditetapkan
G10     Masukan untuk cutter offset data, diikuti dengan P-code dan R-code
G17     Selection of x-y plane in milling
G18     Selection of x-z plane in milling
G19     Selection of y-z plane in milling
G20     Inputan Data dalam satuan inchi
G21     Inputan Data dalam satuan milimeter
G28     Kembali ke titik acuan
G32     Thread cutting in milling
G40     Cancel offset compensation for cutter radius
G41     Cutter offset compensation, left part of surface
G42     Cutter offset compensation, right part of surface
G50     Koordinat tertentu relatif terhadap lokasi awal pahat (di turning)
G90     Programmning in absolute coordinates
G91     Programming in incremental coordinates
G92     Koordinat tertentu relatif terhadap lokasi awal pahat (di milling dan drilling)
G94     Feed per minute in milling and drilling
G95     Feed per revolution in milling and drilling
G98     Feed per minute in turning
G99     Feed per revolution in turning

Mesin Bubut

Dalam pekerjaan bengkel mesin, benda kerja yang akan dikerjakan mempunyai bentuk-bentuk tertentu, untuk menjadi barang yang siap pakai dalam kehidupan sehari-hari, maka diperlukan proses pengerjaan dengan mesin-mesin perkakas, antara lain mesin bubut, mesin bor, mesin gergaji, mesin frais, mesin sekrap, mesin asah, mesin gerinda, dan mesin yang lainnya.


Mesin bubut merupakan sejenis mesin perkakas yang digunakan untuk membubut benda kerja di dalam bengkel. Pada awalnya mesin bubut terbuat dari pegas (kayu atau bambu ) dengan menggunakan injakan kaki dan seutas tali untuk memutar benda kerja dan menghubugkan antara pegas dan injakan kaki. Namun seiring dengan berkembangnya zaman dan berkembangnya teknologi, sekarang mesin bubut telah diperbaiki dan diperhalus sehingga memiliki tingkat presisi yang tinggi.

Mesin bubut digunakan untuk mengerjakan bidang silinder, luar dan dalam. Mesin bubut mempunyai gerak utama berputar dan berfungsi sebagai pengubah bentuk dan ukuran benda dengan jalan menyayat benda tersebut dengan suatu pahat penyayat, posisi benda kerja berputar sesuai dengan sumbu mesin dan pahat diam bergerak ke kanan dan ke kiri searah dengan sumbu mesin bubut menyayat benda kerja.

Ukuran dari mesin bubut diukur dari jarak senter kepala lepas, ini merupakan jarak terpanjang dari benda yang bisa dibubut. Dan tergantung pula tinggi/ jarak dari ujung senter ke permukaan alas mesin (bed) yakni setengah diameter benda kerja yang biasa dikerjakan (Daryanto, 1996).

Bentuk dan ukuran mesin ini bervariasi, yang berukuran kecil dan bentuk sederhana pemasangannya diatas bangku, sedangkan yang berukuran sedang dan besar dipasang dilantai degan diikat dengan baut dan mur. Mesin bubut dapat bermacam-macam bentuknya, misalnya mesin bubut mendatar, mesin bubut khusus, mesin bubut bangku kepala, dan mesin bubut karosel.

Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan mesi bubut antara lain :

1. Bubut lurus

2. Bubut tirus

3. Bubut bertingkat

4. Ulir dan alur

5. Pengkartelan

6. Pengeboran

7. Pengetapan

8. Penyenaian

9. Merimer

10. Penggerindaan

Teknologi Pengembangan Benih Pertanian Dan Cara Memperoleh Benih Tanaman Yang Bagus

Benih adalah suatu mukjizat kehidupan karena benih memiliki suatu kekuatan misteri, keberuntungan, dan kepercayaan yang meski nilainya hanya sepeser namun tak mampu diciptakan oleh manusia. Ketika berurusan dengan benih, terutama ketika memanen, membersihkan, mengolah, menyimpan dan mentransportasikan, penting sekali untuk selalu diingat, bahwa didalam benih terdapat tanaman mini dorman yang menunggu kesempatan untuk dapat melangsungkan pertumbuhannya.

Beberapa jenis benih memiliki struktur tambahan, seperti gulma, braktea, spina, dan rambut yang membantu melindungi benih dari pelukaan burung atau tikus. Posisi embrio dalam benih dan sifat kulit pelindungnya merupakan pelengkap penting dari semua benih yang sering terkena kekerasan berbagai proses mekanis dan penanganan pada saat panen hingga masa tanam.

Dari keterangan diatas, benih dapat kita perbanyak dengan melakukan teknologi benih. Teknologi benih adalah produksi benih dalam rangka pengadaan benih yang terwujud dengan praktek-praktek dalam jangkauan penyelamatan benih sejak dipungut, dikelola, dipelihara sampai benih-benih tersebut ditanam kembali sesuai dengan cara-cara yang semestinya dengan mengingat unsur-unsur musim yang mendorong pertumbuhannya. Atau dengan kata lain teknologi benih itu merupakan serangkaian perlakuan-perlakuan untuk meningkatkan sifat genetika dan fisik benih. Adapun perlakuan-perlakuan meliputi jangkauan hal-hal sebagai berikut :
§    Pengembangan varietas
§    Evaluasi dan pelepasan benih
§    Usaha produksi benih
§    Pemungutan hasil
§    Pengeringan benih dalam arti pengaturan kadar airnya
§    Pengolahan benih (Seeds processing) yang meliputi pembersihannya (Cleaning),  

penggolongan (Grading) serta usaha-usaha pemeliharaannya (chemis, fisik, mekanis) agar tercegah dari segala bentuk hama, penyakit, mempertahankan kualitas, mempertahankan daya tumbuhnya.
§    Pengujian kualitas
§    Penyimpanan dan pengemasan
§    Sertifikasi benih
§    Perlindungan (hukum, undang-undang, dan peraturan)
§    Distribusi benih (pemasarannya)

Dalam usaha mengembangkan tanaman semusim, benih tanamannya ada yang langsung dapat ditanam pada lahan-lahan pertanian yang telah disediakan, seperti halnya benih, tanaman jagung, kacang-kacangan dan lain sebagainya. Pada waktu benih belum mudah didapatkan seperti sekarang, ada tiga kelaziman petani dalam memperoleh benih tanaman yang hendak dikembangkannya. Terutama bagi mereka yang yang tinggal di daerah-daerah yang cukup jauh dari perkotaan, serta aktivitas Dinas Pertanian melalui PPL-PPL-nya belum seaktif sekarang. Cara petani memperoleh benih tanaman adalah sebagai berikut :
1.    Melakukan sistem barter antara seorang petani yang perlu benih dengan petani lain yang memiliki tanaman-tanaman jenis baik.
2.    Melakukan pembenihan sendiri dengan cara memilih biji-bijian dari tanamannya yang mempunyai nilai tumbuh dan berbuah dengan baik.
3.    Pada waktu itu benih tanaman dapat pula dibeli pasar, toko atau kios tertentu yang memang menjual benih tanaman dan obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. Macamnya tidak banyak dan mutunya pun tidak begitu terjamin, hal ini karena waktu itu pedagang belum mementingkan mutu benih melainkan sejumlah heuntungan yang bakal diperolehnya, sehingga tidak jarang terjadi penyimpangan-penyimpangan yang mengakibatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi menurun.

Cara Jitu Pemeriksaan Kesehatan Benih

Pada dasarnya, benih terdiri dari embrio atau tanaman mini, endosperma dan cadangan makanan lainnya serta pelindung yang terdiri dari kulit benih, pada benih-benih tertentu terdapat juga struktur tambahan. Di dalam sector pertanian pemilihan benih sangat penting dilakukan karena merupakan awal dari seluruh proses perkembangan tanaman yang akan menentukan hasil dari pertanaman tersebut. Oleh karena itu, pemilihan benih yang berkualitas dan bebas dari pathogen sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil produksi yang berkualitas dan berproduksi secara maksimum.

Adapun masalah yang sering dihadapi petani dalam proses pertanaman adalah terjadinya serangan penyakit yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan penanaman benih para petani selalu memilih benih yang berkualitas tinggi agar diperoleh hasil produksi yang memiliki kualitas yang baik sehingga hasil produksi yang dijual memiliki nilai jual yang tinggi sehingga petani mendapatkan keuntungan yang besar. Tetapi sering kali benih tersebut terkena serangan penyakit sebelum ditanam sehingga diperlukan suatu cara untuk membersihkannya, yaitu salah satunya dengan pencucian benih agar benih tersebut benar-benar bersih dari segala macam patogen atau benda lainnya yang menempel pada benih tersebut yang dapat merusak kualitas benih tersebut.

Serangan penyakit dapat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan cara bercocok tanam. Selain itu, factor lainnya adalah penggunaan benih yang mengandung pathogen (benih sakit) sehingga pemilihan bibit sangat diperlukan. Factor-faktor yang menjadi dasar penilaian kualitas benih, yaitu :
a.    Kebenaran varietas
b.    Persentase perkecambahan
c.    Persentase biji rumput-rumputan
d.    Kekuatan tumbuh

Bebas atau tidaknya dari kontaminan

Aplikasi PESTISIDA Di Bidang Pertanian

Pestisida secara harafiah berarti pembunuh hama. Menurut pemerintah No. 1973, pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lai serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk:
menegndalikan atau mencegah hama atau penyakit yang mrusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian;
mengendalikan rerumputan
mengatur dan merangsang pertumbuhan yang tdak diinginkan
mengndalikan atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak.
mengendalika hama-hama air
mengendalikan atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi, degan p[enggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Dari batasan tersebut diatas nyata bahwa pengertian pestisida luas sekali, yakni meliputi produk-produk yang digunakan di bidang pertanianm, kehutanan, perkebunan, peternakan/kesehatan hewan, perikanan, dan kesehatan masyarakat. Pestisida yang digunakan dibidang pertanian scara spesifik sering disebut produk perlindungan tanaman untuk membedakannya dari produk-produk yang digunakan di bidang lain.

Istilah produk perlindungan tanaman juga digunakan unbtuk menghindari istilah pestisida yang berkonotasi bahan pembunuh. Memang kenyataannya tidak semua pestisida pertanian bekerja dengan cara membunuh. Repellant, misalnya, tidak membunuh melainkan mengusir hama.

Metode aplikasi pestisida di bidang pertanian
Dalam bidang pertanian, pestisida diaplikasikan dengan berbagai cara. Cara-cara pengaplikasian pestisida diantaranya adalah sebagai berikut:

penyemprotan (spraying)

penyemprotan (spraying) adalah penyemprotan pestisida pertanian yang paling banyak dipakai oleh para petani. Diperkirakan 75% penggunaan pestisida dilakukan dengan cara penyemprotan, baik penyemprotan di darat maupun peyemprotan di udara. Dalam penyemprotan, laruta pestisida dipecah oleh Nozzle atau atomizer yang terdapat dalam alat penyemprot menjadi butiran-butiran seprot atau droplet. Bentuk sediaan pestisida yang diaplikasikan dengan cara disemprot meliputi WP, EC, EW, WSC, SP, FW dan WDG. Sedagnkan untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah digunakan formulasi ULV. Teknik penyemprota ini termasuk jhiga pegkabutan.

pengasapan

pengasapan (fogging) adalah penyemprotan pestisida dengan volume ultra rendah dengan menggunakan ukuran droplet yang sangat halus. Perbedaan dengan penyemprotan cara biasa adalah pada fogging campuran pestisida da solvent (um,umnya miyak) dipanaskan sehingga menjadi semacam abut asap yang sangat halus. Fogging banyak dilakukan untuk mengendalikan hama gudang, hama tanaman perkebunan dan pengendalian vector penyakit di lingkungan (pengendalian nyamuk demam berdarah, malaria, dsb)

peaburan pestisida butiran (Granule distribution, broadcasting)

penaburan pestisida butiran adalah penaburan pestisida dalam bentuk butiran yang merupaka cara khusus untuk mengaplikasikan pestisida berbentuk butiran (granule). Penaburan dapat dilakukan dengan tanga atau dengan mesin penabur.

Perawatan benih (seed dressing, seed treatment, seed coating)

Perawatan benih adalah cara aplikasi pestisida utuk melindungi benih sebelum benih ditanam agar kecambah dan tanaman muda tidak terserang oleh hama dan penyakit. Pestisida yang digunakan adalah formulasi SD dan ST.
Pencelupan (Dipping)

Pencelupan adalah peggunaan pestisida utuk melindungi bahan tanaman (bibit, cangkok, stek) agar terhindar dari hama dan penyakit yang mungkin terbawa oleh bahan tanaman tersebut. Pencelupan dilakukan dengan cara mencelupkan bibit tau stek ke dalam pestisida.

Fumigasi (Fumigation)

Fumigasi adalah aplikasi pestisida fumigant, baik berbentuk pada, cair maupun gas dalam ruang tertutup. Fumigasi umum nya digunakan untuk melindungi hasil panen (misanya biji-bijian) dari kerusakan hama atau peyakit di tempat penyimpanan. Fumigant dimasukkan ke dalam ruangan gudang yang selanjutnya akan membentuk gas beracun utuk membunuh OPT sasaran yag ada dalam ruangan tersebut.

Injeksi (Injection)

Injeksi adalah penggunaan pestisida dengan cara dimasukkan ke dalam batang tanaman, baik dengan alat khusus maupun denga member batang tanaman tersebut. Pestisida yang diineksikan diharuskan akan tersebar ke seluruh bagian tanaman melalui aliran cairan tanaman, sehingga OPT sasaran akan terkendali. Teknik ineksi juga digunakan utuk sterilisasi tanah.

penyiraman (Drenching, Pouring On)

penyiraman adalah penggunaan pestisida dengan cara dituangkan di sekitara akar tanaman utuk mengendalikan hama atau penyakit di daerah perakaran, atau dituangkan pada sarang semut, dsb.



Formulasi pestisida
Pengaplikasian pestisida di lapangan erat kaitannyua dengan bentuk formulasi dari pestisida yang digunaka tersebut. Formulasi adalah campuran antara bahan aktif dan bahan tambahan tertentu agar pestisida dapat efektif, efisien dan ekonomis. Karena itu dalam perdagangan pestisida bahan aktif diformulasikan terlebih dahulu dengan dicampur bahan-bahan pembantu, misalnya solvent (bahan pelarut) emulsifier (bahan pembuat emulsi), diluent (bahan pembasah dan pengencer) carrier (bahan pembawa) dan kadang-kadang synergist (bahan untuk meningkatkan efektifitas pestisida).

Bentuk-bentuk formulasi pada pestisida antara lain:
a. Bentuk Cair
EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate)
Sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengankonsentrasi bahan aktifd yang cukup tinggi. Kosentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emilsi (butiran denda cair yang melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.

2. Soluble Concentrate in water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC)
Formulasi ini mirip EC, tetapi bila decamp[ur air tidsak membentuk emulsi, melainkan membentuk larutan homogen. Umumnya, sediaan ini digunakan dengan cara disemprotkan.

aeous Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC)
pekatan ini diarutkan dalam air. Persisida yang diformulasi dalam bentuk AS dan AC umumnya pestisida berbentuk garam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air. Pestisida ini juga dighunakan dengan cara disemprot.

Soluble (SL)
Pekatan cair ini jika dicampurkan air akan membentuk larutan. Pestisida ini digunakan dengan cara disemprotkan. SL juga dapat mengacu pada formulasi slurry.

Flowable (F) atau Flowabel ini Water (FW)
Formulasi ini berupa konsentrasi cair yangs angat pekat. Bila dicampur air, F atau FW akan membentuk emilsi seperti halnya WP. Pada dasarnya FW adalah WP yang dibasahkan.

Ultra Low Volume (ULV)
Sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yakni volume semprot antara 1 hingga 5 liter/hektar. ULV umumnya merupakan sdiaan siap pakai, tanpa harus dicampur dengan air.

b Sediaan padat

Wettable Powder (WP)
Formulasi WP bersama EC merupakan formulasi klasik yang masih banyak digunakan dingga saat ini. WP adalah formulasi bentuk tepung yang bila dicampur air akan membentuk suspensi yang penggunaannya dengan cara disemprot.

Soluble powder (S atau SP)
Formulasi bentuk tepung yang bia dicampur air akan menghasilkan larutan homogen. Pestisida ini juga digunakand enga cara disemprotkan.

Butiran (G)
Butiran yang umumnya merupakan sedian siap pakai dengan konsetrasi rendah. Pestisida butiran digunakan dengan cara ditaburkan di lapagan (baik secara manual dengan tangan atau dengan mesin penabur) setelah penaburan dapat diikuti denga pegolahan tanah atai tidak. Disamping formulasi G dikenal juga fomulasi SG, yakni sand granular.

Water Dipersible Granule (WG atau WDG)
WDG atau WG berbentuk butiran, mirip G, tetapi penggunaanya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan denga air dan digunakan dengan cara disemprotkan.

Seed dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST)
Sediaan berbentuk tepung yang khusus digunakan untuk perawatan benih

Tepug Hembus atau Dust (D)
Sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah yang digunakan dengan cara dihembuskan.

umpan atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB)
umpan merupakan formulasi siap pakai yang umumya digunakan untuk formulasi rodentisida.

Dalam pemilihan bentuk formuasi pestisida harus diseduaikan dengan lahan atau bagian yang akan kita aplikasikan. Jika kita akan mengaplikasikan pestisida langsung pada lahan pertanian kita dapat menggunakan formulasi EC  atau SCW yang diaplikasikan dengan dilarutkan didalam air dengan dosis dan volume semprot tertentu. Namun jika kita ingin mengaplikasikan pestisida pada benih atau hasil panen agar tidak terkena serangan hama dan penyakit kita dapat menggunakan formulasi SD atau DT.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money