Teknologi Pengembangan Benih Pertanian Dan Cara Memperoleh Benih Tanaman Yang Bagus

Benih adalah suatu mukjizat kehidupan karena benih memiliki suatu kekuatan misteri, keberuntungan, dan kepercayaan yang meski nilainya hanya sepeser namun tak mampu diciptakan oleh manusia. Ketika berurusan dengan benih, terutama ketika memanen, membersihkan, mengolah, menyimpan dan mentransportasikan, penting sekali untuk selalu diingat, bahwa didalam benih terdapat tanaman mini dorman yang menunggu kesempatan untuk dapat melangsungkan pertumbuhannya.

Beberapa jenis benih memiliki struktur tambahan, seperti gulma, braktea, spina, dan rambut yang membantu melindungi benih dari pelukaan burung atau tikus. Posisi embrio dalam benih dan sifat kulit pelindungnya merupakan pelengkap penting dari semua benih yang sering terkena kekerasan berbagai proses mekanis dan penanganan pada saat panen hingga masa tanam.

Dari keterangan diatas, benih dapat kita perbanyak dengan melakukan teknologi benih. Teknologi benih adalah produksi benih dalam rangka pengadaan benih yang terwujud dengan praktek-praktek dalam jangkauan penyelamatan benih sejak dipungut, dikelola, dipelihara sampai benih-benih tersebut ditanam kembali sesuai dengan cara-cara yang semestinya dengan mengingat unsur-unsur musim yang mendorong pertumbuhannya. Atau dengan kata lain teknologi benih itu merupakan serangkaian perlakuan-perlakuan untuk meningkatkan sifat genetika dan fisik benih. Adapun perlakuan-perlakuan meliputi jangkauan hal-hal sebagai berikut :
§    Pengembangan varietas
§    Evaluasi dan pelepasan benih
§    Usaha produksi benih
§    Pemungutan hasil
§    Pengeringan benih dalam arti pengaturan kadar airnya
§    Pengolahan benih (Seeds processing) yang meliputi pembersihannya (Cleaning),  

penggolongan (Grading) serta usaha-usaha pemeliharaannya (chemis, fisik, mekanis) agar tercegah dari segala bentuk hama, penyakit, mempertahankan kualitas, mempertahankan daya tumbuhnya.
§    Pengujian kualitas
§    Penyimpanan dan pengemasan
§    Sertifikasi benih
§    Perlindungan (hukum, undang-undang, dan peraturan)
§    Distribusi benih (pemasarannya)

Dalam usaha mengembangkan tanaman semusim, benih tanamannya ada yang langsung dapat ditanam pada lahan-lahan pertanian yang telah disediakan, seperti halnya benih, tanaman jagung, kacang-kacangan dan lain sebagainya. Pada waktu benih belum mudah didapatkan seperti sekarang, ada tiga kelaziman petani dalam memperoleh benih tanaman yang hendak dikembangkannya. Terutama bagi mereka yang yang tinggal di daerah-daerah yang cukup jauh dari perkotaan, serta aktivitas Dinas Pertanian melalui PPL-PPL-nya belum seaktif sekarang. Cara petani memperoleh benih tanaman adalah sebagai berikut :
1.    Melakukan sistem barter antara seorang petani yang perlu benih dengan petani lain yang memiliki tanaman-tanaman jenis baik.
2.    Melakukan pembenihan sendiri dengan cara memilih biji-bijian dari tanamannya yang mempunyai nilai tumbuh dan berbuah dengan baik.
3.    Pada waktu itu benih tanaman dapat pula dibeli pasar, toko atau kios tertentu yang memang menjual benih tanaman dan obat-obatan pemberantas hama dan penyakit tanaman. Macamnya tidak banyak dan mutunya pun tidak begitu terjamin, hal ini karena waktu itu pedagang belum mementingkan mutu benih melainkan sejumlah heuntungan yang bakal diperolehnya, sehingga tidak jarang terjadi penyimpangan-penyimpangan yang mengakibatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi menurun.

Cara Jitu Pemeriksaan Kesehatan Benih

Pada dasarnya, benih terdiri dari embrio atau tanaman mini, endosperma dan cadangan makanan lainnya serta pelindung yang terdiri dari kulit benih, pada benih-benih tertentu terdapat juga struktur tambahan. Di dalam sector pertanian pemilihan benih sangat penting dilakukan karena merupakan awal dari seluruh proses perkembangan tanaman yang akan menentukan hasil dari pertanaman tersebut. Oleh karena itu, pemilihan benih yang berkualitas dan bebas dari pathogen sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil produksi yang berkualitas dan berproduksi secara maksimum.

Adapun masalah yang sering dihadapi petani dalam proses pertanaman adalah terjadinya serangan penyakit yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produksi. Oleh sebab itu, sebelum dilakukan penanaman benih para petani selalu memilih benih yang berkualitas tinggi agar diperoleh hasil produksi yang memiliki kualitas yang baik sehingga hasil produksi yang dijual memiliki nilai jual yang tinggi sehingga petani mendapatkan keuntungan yang besar. Tetapi sering kali benih tersebut terkena serangan penyakit sebelum ditanam sehingga diperlukan suatu cara untuk membersihkannya, yaitu salah satunya dengan pencucian benih agar benih tersebut benar-benar bersih dari segala macam patogen atau benda lainnya yang menempel pada benih tersebut yang dapat merusak kualitas benih tersebut.

Serangan penyakit dapat dipengaruhi oleh keadaan iklim dan cara bercocok tanam. Selain itu, factor lainnya adalah penggunaan benih yang mengandung pathogen (benih sakit) sehingga pemilihan bibit sangat diperlukan. Factor-faktor yang menjadi dasar penilaian kualitas benih, yaitu :
a.    Kebenaran varietas
b.    Persentase perkecambahan
c.    Persentase biji rumput-rumputan
d.    Kekuatan tumbuh

Bebas atau tidaknya dari kontaminan

Aplikasi PESTISIDA Di Bidang Pertanian

Pestisida secara harafiah berarti pembunuh hama. Menurut pemerintah No. 1973, pestisida adalah semua zat kimia atau bahan lai serta jasad renik dan virus yang digunakan untuk:
menegndalikan atau mencegah hama atau penyakit yang mrusak tanaman, bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian;
mengendalikan rerumputan
mengatur dan merangsang pertumbuhan yang tdak diinginkan
mengndalikan atau mencegah hama-hama luar pada hewan peliharaan atau ternak.
mengendalika hama-hama air
mengendalikan atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang yang perlu dilindungi, degan p[enggunaan pada tanaman, tanah dan air.

Dari batasan tersebut diatas nyata bahwa pengertian pestisida luas sekali, yakni meliputi produk-produk yang digunakan di bidang pertanianm, kehutanan, perkebunan, peternakan/kesehatan hewan, perikanan, dan kesehatan masyarakat. Pestisida yang digunakan dibidang pertanian scara spesifik sering disebut produk perlindungan tanaman untuk membedakannya dari produk-produk yang digunakan di bidang lain.

Istilah produk perlindungan tanaman juga digunakan unbtuk menghindari istilah pestisida yang berkonotasi bahan pembunuh. Memang kenyataannya tidak semua pestisida pertanian bekerja dengan cara membunuh. Repellant, misalnya, tidak membunuh melainkan mengusir hama.

Metode aplikasi pestisida di bidang pertanian
Dalam bidang pertanian, pestisida diaplikasikan dengan berbagai cara. Cara-cara pengaplikasian pestisida diantaranya adalah sebagai berikut:

penyemprotan (spraying)

penyemprotan (spraying) adalah penyemprotan pestisida pertanian yang paling banyak dipakai oleh para petani. Diperkirakan 75% penggunaan pestisida dilakukan dengan cara penyemprotan, baik penyemprotan di darat maupun peyemprotan di udara. Dalam penyemprotan, laruta pestisida dipecah oleh Nozzle atau atomizer yang terdapat dalam alat penyemprot menjadi butiran-butiran seprot atau droplet. Bentuk sediaan pestisida yang diaplikasikan dengan cara disemprot meliputi WP, EC, EW, WSC, SP, FW dan WDG. Sedagnkan untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah digunakan formulasi ULV. Teknik penyemprota ini termasuk jhiga pegkabutan.

pengasapan

pengasapan (fogging) adalah penyemprotan pestisida dengan volume ultra rendah dengan menggunakan ukuran droplet yang sangat halus. Perbedaan dengan penyemprotan cara biasa adalah pada fogging campuran pestisida da solvent (um,umnya miyak) dipanaskan sehingga menjadi semacam abut asap yang sangat halus. Fogging banyak dilakukan untuk mengendalikan hama gudang, hama tanaman perkebunan dan pengendalian vector penyakit di lingkungan (pengendalian nyamuk demam berdarah, malaria, dsb)

peaburan pestisida butiran (Granule distribution, broadcasting)

penaburan pestisida butiran adalah penaburan pestisida dalam bentuk butiran yang merupaka cara khusus untuk mengaplikasikan pestisida berbentuk butiran (granule). Penaburan dapat dilakukan dengan tanga atau dengan mesin penabur.

Perawatan benih (seed dressing, seed treatment, seed coating)

Perawatan benih adalah cara aplikasi pestisida utuk melindungi benih sebelum benih ditanam agar kecambah dan tanaman muda tidak terserang oleh hama dan penyakit. Pestisida yang digunakan adalah formulasi SD dan ST.
Pencelupan (Dipping)

Pencelupan adalah peggunaan pestisida utuk melindungi bahan tanaman (bibit, cangkok, stek) agar terhindar dari hama dan penyakit yang mungkin terbawa oleh bahan tanaman tersebut. Pencelupan dilakukan dengan cara mencelupkan bibit tau stek ke dalam pestisida.

Fumigasi (Fumigation)

Fumigasi adalah aplikasi pestisida fumigant, baik berbentuk pada, cair maupun gas dalam ruang tertutup. Fumigasi umum nya digunakan untuk melindungi hasil panen (misanya biji-bijian) dari kerusakan hama atau peyakit di tempat penyimpanan. Fumigant dimasukkan ke dalam ruangan gudang yang selanjutnya akan membentuk gas beracun utuk membunuh OPT sasaran yag ada dalam ruangan tersebut.

Injeksi (Injection)

Injeksi adalah penggunaan pestisida dengan cara dimasukkan ke dalam batang tanaman, baik dengan alat khusus maupun denga member batang tanaman tersebut. Pestisida yang diineksikan diharuskan akan tersebar ke seluruh bagian tanaman melalui aliran cairan tanaman, sehingga OPT sasaran akan terkendali. Teknik ineksi juga digunakan utuk sterilisasi tanah.

penyiraman (Drenching, Pouring On)

penyiraman adalah penggunaan pestisida dengan cara dituangkan di sekitara akar tanaman utuk mengendalikan hama atau penyakit di daerah perakaran, atau dituangkan pada sarang semut, dsb.



Formulasi pestisida
Pengaplikasian pestisida di lapangan erat kaitannyua dengan bentuk formulasi dari pestisida yang digunaka tersebut. Formulasi adalah campuran antara bahan aktif dan bahan tambahan tertentu agar pestisida dapat efektif, efisien dan ekonomis. Karena itu dalam perdagangan pestisida bahan aktif diformulasikan terlebih dahulu dengan dicampur bahan-bahan pembantu, misalnya solvent (bahan pelarut) emulsifier (bahan pembuat emulsi), diluent (bahan pembasah dan pengencer) carrier (bahan pembawa) dan kadang-kadang synergist (bahan untuk meningkatkan efektifitas pestisida).

Bentuk-bentuk formulasi pada pestisida antara lain:
a. Bentuk Cair
EC (Emulsifiable Cocentrate atau Emulsible Cocentrate)
Sediaan berbentuk pekatan (konsentrat) cair dengankonsentrasi bahan aktifd yang cukup tinggi. Kosentrasi ini jika dicampur dengan air akan membentuk emilsi (butiran denda cair yang melayang dalam media cair lain). EC umumnya digunakan dengan cara disemprot, meskipun dapat pula digunakan dengan cara lain.

2. Soluble Concentrate in water (WSC) atau Water Soluble Concentrate (WSC)
Formulasi ini mirip EC, tetapi bila decamp[ur air tidsak membentuk emulsi, melainkan membentuk larutan homogen. Umumnya, sediaan ini digunakan dengan cara disemprotkan.

aeous Solution (AS) atau Aquaous Concentrate (AC)
pekatan ini diarutkan dalam air. Persisida yang diformulasi dalam bentuk AS dan AC umumnya pestisida berbentuk garam yang mempunyai kelarutan tinggi dalam air. Pestisida ini juga dighunakan dengan cara disemprot.

Soluble (SL)
Pekatan cair ini jika dicampurkan air akan membentuk larutan. Pestisida ini digunakan dengan cara disemprotkan. SL juga dapat mengacu pada formulasi slurry.

Flowable (F) atau Flowabel ini Water (FW)
Formulasi ini berupa konsentrasi cair yangs angat pekat. Bila dicampur air, F atau FW akan membentuk emilsi seperti halnya WP. Pada dasarnya FW adalah WP yang dibasahkan.

Ultra Low Volume (ULV)
Sediaan khusus untuk penyemprotan dengan volume ultra rendah, yakni volume semprot antara 1 hingga 5 liter/hektar. ULV umumnya merupakan sdiaan siap pakai, tanpa harus dicampur dengan air.

b Sediaan padat

Wettable Powder (WP)
Formulasi WP bersama EC merupakan formulasi klasik yang masih banyak digunakan dingga saat ini. WP adalah formulasi bentuk tepung yang bila dicampur air akan membentuk suspensi yang penggunaannya dengan cara disemprot.

Soluble powder (S atau SP)
Formulasi bentuk tepung yang bia dicampur air akan menghasilkan larutan homogen. Pestisida ini juga digunakand enga cara disemprotkan.

Butiran (G)
Butiran yang umumnya merupakan sedian siap pakai dengan konsetrasi rendah. Pestisida butiran digunakan dengan cara ditaburkan di lapagan (baik secara manual dengan tangan atau dengan mesin penabur) setelah penaburan dapat diikuti denga pegolahan tanah atai tidak. Disamping formulasi G dikenal juga fomulasi SG, yakni sand granular.

Water Dipersible Granule (WG atau WDG)
WDG atau WG berbentuk butiran, mirip G, tetapi penggunaanya sangat berbeda. Formulasi WDG harus diencerkan denga air dan digunakan dengan cara disemprotkan.

Seed dreesing (SD) atau Seed Treatment (ST)
Sediaan berbentuk tepung yang khusus digunakan untuk perawatan benih

Tepug Hembus atau Dust (D)
Sediaan siap pakai dengan konsentrasi rendah yang digunakan dengan cara dihembuskan.

umpan atau bait (B) ready Mix Bait (RB atau RMB)
umpan merupakan formulasi siap pakai yang umumya digunakan untuk formulasi rodentisida.

Dalam pemilihan bentuk formuasi pestisida harus diseduaikan dengan lahan atau bagian yang akan kita aplikasikan. Jika kita akan mengaplikasikan pestisida langsung pada lahan pertanian kita dapat menggunakan formulasi EC  atau SCW yang diaplikasikan dengan dilarutkan didalam air dengan dosis dan volume semprot tertentu. Namun jika kita ingin mengaplikasikan pestisida pada benih atau hasil panen agar tidak terkena serangan hama dan penyakit kita dapat menggunakan formulasi SD atau DT.

Dosis aplikasi pestisida

Dosis aplikasi pestisida adalah jumlah pestisida yang diaplikasikan untuk mengendalikan  OPT pada setiap satuan luas bidang sasaran, misalnya liter produk pestisida per hektar, kilogram pestisida per hektar, dan sebagainya.untuk fumigasi ruangan dosis adalah jumlah fumigan yang diaplikasikan untuk setiap satuan volume ruang sasaran. 

Pada penyemprotan tanaman pohon dosis adakalanya dinyatakan dalam jumlah produk per pohon.dosis dapat dinyatakan dalam dosis produk atau dosis bahan aktif. maka untuk mengubah ke dosis produk harus dikonversikan dengan kandungan baan aktif produk tersebut.sedangkan konsentrasi aplikasi di gunakan dalam aplikasi dengan cara penyemprotan. konsentrasi penyemprotan adalah jmlah pestisida yang di campurkan dalam satu liter air untuk mengendalikan OPT tertentu. Konsentrasi dinyatakan dalam produk per liter, per mililiter dan gram produk per liter. Selain hal tersebut yang sangat penting dalm pengaplikasian pestisida adalah volume semprot yang merupakan ukuran banyaknya cairan yang dibutuhkan untuk menyebarkan pestisida agar merata pada areal tertentu. 

Pada praktikum yang telah dilakukan yaitu menghitung dosis konsentrasi dan volume semprot dari 5 jenis insektisida yang ada, dihitung berapa pipet yang harus di ambil dari setiap insektisida dengan konsentrasi yang berbeda-beda dan dinyatakan dalam 2 satuan yaitu % dan ppm.dari perhitungan yang dilakukan di dapatkn hasil yaitu dengan  C1=0,5, C1=1,5, C1=2,0 , C1=3,0, C1=5,0 Sevin 85 S ( karbaril 85 %) dengan volume akhir 1000 ml adalah dengan urutan 5,882 %, 17,64%, 23,52%, 35,29% dan 58.82%., Larvin 375 S ( tiodikarb 384,83 gr/l 12,99 %,  38,97 % ,51,97%, 77.95%, 129,92 %, Daconil 75 WP ( klorotalonil 75% , 6,66%,  20% ,26,66 %,  40 %, 66,66 %, Lebaycid 550 EC (fention 550 gr/l),  9,09, 27,37 , 36,36 %, 54,54 %, 90,90  %, Applaud 100 EC ( buprofezin 100 gr/l 50 %, 150  %  200 %   300% dan 500 %. Sedangkan yang di nyatakan dalam ppm  dengan V1 50.150,200,250, dan 300 dengan urutan adalah Sevin 85 S ( karbaril 85 %) dengan volume akhir 1000 ml = 0,05 ppm, 0,17 ppm, 0,23 ppm, 0,29 ppm, 0,35 ppm, Larvin 375 S ( tiodikarb 384,83 gr/l  =  0,1299  0,389 ppm, 0,519 ppm,0,64 ppm, 0,779 ppm, Daconil 75 WP ( klorotalonil 75%) 0,0666  ppm,  0,2 ppm,  0,266 ppm, 0,333 ppm, 0,4 ppm, Lebaycid 550 EC (fention 550 gr/l) 0,090, 1,811 ppm, 0,366 ppm, 0,45 ppm, 0,54 ppm, Applaud 100 EC ( buprofezin 100 gr/l) 0,5 ppm 1,5 ppm,2, 2,5 dan 3 ppm.

Dosis aplikasi pestisida

Dosis aplikasi pestisida adalah jumlah pestisida yang diaplikasikan untuk mengendalikan  OPT pada setiap satuan luas bidang sasaran, misalnya liter produk pestisida per hektar, kilogram pestisida per hektar, dan sebagainya.untuk fumigasi ruangan dosis adalah jumlah fumigan yang diaplikasikan untuk setiap satuan volume ruang sasaran. 

Pada penyemprotan tanaman pohon dosis adakalanya dinyatakan dalam jumlah produk per pohon.dosis dapat dinyatakan dalam dosis produk atau dosis bahan aktif. maka untuk mengubah ke dosis produk harus dikonversikan dengan kandungan baan aktif produk tersebut.sedangkan konsentrasi aplikasi di gunakan dalam aplikasi dengan cara penyemprotan. konsentrasi penyemprotan adalah jmlah pestisida yang di campurkan dalam satu liter air untuk mengendalikan OPT tertentu. Konsentrasi dinyatakan dalam produk per liter, per mililiter dan gram produk per liter. Selain hal tersebut yang sangat penting dalm pengaplikasian pestisida adalah volume semprot yang merupakan ukuran banyaknya cairan yang dibutuhkan untuk menyebarkan pestisida agar merata pada areal tertentu. 

Pada praktikum yang telah dilakukan yaitu menghitung dosis konsentrasi dan volume semprot dari 5 jenis insektisida yang ada, dihitung berapa pipet yang harus di ambil dari setiap insektisida dengan konsentrasi yang berbeda-beda dan dinyatakan dalam 2 satuan yaitu % dan ppm.dari perhitungan yang dilakukan di dapatkn hasil yaitu dengan  C1=0,5, C1=1,5, C1=2,0 , C1=3,0, C1=5,0 Sevin 85 S ( karbaril 85 %) dengan volume akhir 1000 ml adalah dengan urutan 5,882 %, 17,64%, 23,52%, 35,29% dan 58.82%., Larvin 375 S ( tiodikarb 384,83 gr/l 12,99 %,  38,97 % ,51,97%, 77.95%, 129,92 %, Daconil 75 WP ( klorotalonil 75% , 6,66%,  20% ,26,66 %,  40 %, 66,66 %, Lebaycid 550 EC (fention 550 gr/l),  9,09, 27,37 , 36,36 %, 54,54 %, 90,90  %, Applaud 100 EC ( buprofezin 100 gr/l 50 %, 150  %  200 %   300% dan 500 %. Sedangkan yang di nyatakan dalam ppm  dengan V1 50.150,200,250, dan 300 dengan urutan adalah Sevin 85 S ( karbaril 85 %) dengan volume akhir 1000 ml = 0,05 ppm, 0,17 ppm, 0,23 ppm, 0,29 ppm, 0,35 ppm, Larvin 375 S ( tiodikarb 384,83 gr/l  =  0,1299  0,389 ppm, 0,519 ppm,0,64 ppm, 0,779 ppm, Daconil 75 WP ( klorotalonil 75%) 0,0666  ppm,  0,2 ppm,  0,266 ppm, 0,333 ppm, 0,4 ppm, Lebaycid 550 EC (fention 550 gr/l) 0,090, 1,811 ppm, 0,366 ppm, 0,45 ppm, 0,54 ppm, Applaud 100 EC ( buprofezin 100 gr/l) 0,5 ppm 1,5 ppm,2, 2,5 dan 3 ppm.

CARA PENGAWASAN DAN PERENCANAAN PERSEDIAAN PABRIK

Fungsi utama persediaan yaitu :
- Sebagai penyangga, penghubung antar proses produksi dan distribusi untuk memperoleh efisiensi.
- Sebagai stabilitor harga terhadap fluktuasi permintaan.

Masalah umum persediaan dalam suatu system dapat dibedakan menjadi dua.
yaitu masalah kuantitatif dan masalah kualitatif
1.  Masalah kuantitatif : semua hal yang berhubungan dengan penentuan kebijakan persediaan al:
 - Berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan.
- Kapan pemesanan barang harus dilakukan.
- Berapa jumlah persediaan pengaman.
 - Metode pengendalian persediaan mana yang paling  tepat.

Masalah kualitatif :  Semua hal yang berhubungan dg system  pengoperasian persediaan al:
- Jenis bahan/barang apa yang masih ada
- Dimana barang tersebut ditempatkan
- Berapa banyak barang dalam proses pemesanan
 - Siapa saja yang ditunjuk sebagai pemasok, dsb.

Strategi Jitu Merencanakan Produksi

PERENCANAAN  OPERASI / PRODUKSI
Digunakan untuk mengetahui jumlah barang/produk yang harus diproduksi dengan didasarkan pada hasil peramalan dan persediaan yang ada, juga merupakan pegangan untuk merancang jadual produksi.

Fungsi lain :
- Menjamin rencana penjualan dan rencana produksi konsisten terhadap 
  rencana strategi perusahaan.
- Menjamin kemampuan produksi konsisten terhadap rencana produksi.
- Sebagai alat monitor hasil produksi aktual terhadap rencana produksi.
- Mengatur persediaan produk jadi untuk mencapai target produksi dan
  rencana produksi.
- Mengarahkan penyusunan dan pelaksanaan jadual induk produksi.

Untuk melakukan perencanaan produksi dapat dilakukan dengan beberapa strategi :


Dengan mengendalikan persediaan, (dilakukan pada saat kapasitas produksi dibawah permintaan dan  digunakan pada saat diatas kapasitas produksi)
Dengan mengendaliakan jumlah tenaga kerja sesuai dengan laju produksi yang diinginkan.
Mengadakan subkontrak untuk menaikan kapasitas pada saat perusahaan dalam keadaan sibuk.
Mempengaruhi permintaan (potongan harga, pemberian hadiah, layanan-layanan khusus).

   Perencanaan Operasi dapat diklasifikasikan menjadi dua metode yaitu :
 
1. Metode Kualitatif :
Rasio persediaan, konsensus manajemen, grafik dll.
2. Metode Kuantitattif :
Heuristik, model matematik, simulasi dll.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money